Rejection Menjelang Titik Akhir: Sisi Lain Perjuangan Menembus Jurnal Scopus


Menjadi seorang peneliti dan penulis artikel ilmiah, khususnya yang memiliki cita-cita menembus jurnal internasional bereputasi dan terindeks Scopus, bukanlah perjalanan yang sederhana. Di balik sebuah artikel yang akhirnya terpublikasi, terdapat proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Ada waktu yang dikorbankan, pemikiran yang terus dikembangkan, literatur yang dibaca berulang kali, data yang dianalisis, hingga argumentasi ilmiah yang harus dibangun dengan penuh kehati-hatian.

Banyak orang mungkin melihat publikasi Scopus hanya dari hasil akhirnya: nama penulis, judul artikel, nama jurnal, volume, nomor, dan DOI. Namun, tidak banyak yang mengetahui perjalanan sebuah naskah sebelum sampai pada tahap tersebut. Ada kebahagiaan ketika mendapatkan kesempatan untuk submit, harapan ketika naskah dikirim kepada reviewer, tetapi juga kecemasan ketika keputusan editorial akhirnya datang.

Bagi saya, mengirimkan artikel ke jurnal internasional bereputasi bukan sekadar mencoba peruntungan atau mengejar pengakuan akademik. Ada proses intelektual, dedikasi, dan waktu yang tidak sedikit. Mulai dari membangun gagasan penelitian, menyusun kerangka berpikir, memperkuat landasan teoretis, menentukan metodologi, mengolah data, hingga merangkai argumentasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Setiap tahapan memiliki tantangan dan makna tersendiri bagi seorang peneliti.

Dalam perjalanan tersebut, saya mengalami satu fase yang cukup berkesan ketika naskah yang saya kirimkan memasuki proses review dan mendapatkan keputusan major revision. Saat menerima keputusan tersebut, perasaan saya bercampur antara senang, lega, sekaligus tertantang. Ada kebahagiaan tersendiri karena naskah telah melewati tahap penilaian awal dan mendapatkan kesempatan untuk diperbaiki melalui masukan reviewer. Bagi saya, kesempatan tersebut merupakan harapan bahwa naskah masih memiliki peluang untuk melanjutkan proses publikasi.

Saya kemudian membaca setiap catatan reviewer dengan saksama. Saya berusaha memahami kritik, mengidentifikasi kelemahan argumentasi, mengevaluasi pendekatan metodologis, dan memperbaiki bagian-bagian yang dianggap belum memadai. Saya tidak ingin menjawab komentar reviewer secara asal-asalan. Setiap masukan saya perlakukan sebagai evaluasi akademis yang harus ditindaklanjuti dengan perbaikan substansial, bukan sekadar formalitas untuk memenuhi permintaan reviewer.

Saya menyelesaikan revisi tersebut dalam waktu relatif singkat, kurang lebih satu minggu setelah menerima catatan reviewer. Saya berpikir bahwa selama masih memiliki kesempatan, mengapa harus menunda pekerjaan? Saya berusaha segera menyelesaikan perbaikan, mengirimkan kembali naskah, dan melanjutkan proses publikasi. Saat itu, saya memiliki keyakinan bahwa setiap usaha perbaikan akan membawa naskah semakin dekat dengan standar yang diharapkan jurnal.

Namun, saya mendapatkan pengalaman yang cukup mengejutkan sekaligus di luar ekspektasi. Setelah menyelesaikan seluruh proses revisi dan mengirimkan kembali naskah sesuai dengan catatan serta rekomendasi reviewer, saya justru menerima keputusan bahwa naskah tersebut tidak dapat dilanjutkan ke tahap publikasi. Keputusan rejection ini tentu tidak pernah saya harapkan, terlebih karena sebelumnya saya telah mendapatkan kesempatan untuk melakukan major revision. Pada titik itu, saya menyadari bahwa perjalanan menuju publikasi tidak selalu berjalan sesuai harapan penulis.

Di sinilah saya mulai merenungkan sebuah realitas dalam dunia publikasi ilmiah. Ternyata, menyelesaikan revisi dengan cepat tidak selalu berarti kita telah memenuhi ekspektasi akademik editor. Pengalaman ini membuat saya memahami bahwa revisi bukan hanya tentang menjawab komentar reviewer, tetapi juga tentang memperkuat kualitas intelektual sebuah karya ilmiah.

Jujur, ada rasa kecewa. Bukan karena saya merasa naskah tersebut sempurna atau tidak memiliki kekurangan. Saya menyadari bahwa setiap penelitian memiliki keterbatasan. Namun, ketika sebuah naskah sudah melalui proses review, mendapatkan kesempatan major revision, kemudian diperbaiki berdasarkan catatan yang diberikan, tentu ada harapan bahwa naskah tersebut masih memiliki peluang untuk dipertimbangkan kembali. Saya pun bertanya kepada diri sendiri: apakah revisi yang saya lakukan belum cukup mendalam? Apakah saya terlalu fokus menjawab komentar reviewer sehingga belum sepenuhnya mengembangkan kontribusi yang diharapkan editor?

Pengalaman ini semakin terasa karena penolakan bukanlah sesuatu yang baru dalam perjalanan akademis saya. Beberapa kali artikel yang saya tulis harus menerima keputusan rejection dari jurnal internasional. Ada yang berhenti pada tahap awal editorial, ada yang tidak sesuai dengan ruang lingkup jurnal, dan ada pula yang telah melalui proses review sebelum akhirnya tidak dapat dilanjutkan. Setiap penolakan memiliki cerita dan pelajaran yang berbeda, mulai dari penguatan teori, kontribusi empiris, metodologi, hingga ketajaman novelty.

Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada sesama peneliti, khususnya dosen muda, mahasiswa doktoral, dan akademisi yang sedang berjuang membangun rekam jejak publikasi internasional. Jangan terlalu cepat mengukur keberhasilan akademik hanya dari jumlah artikel yang berhasil diterima. Di balik satu artikel yang berhasil terbit, mungkin terdapat beberapa artikel lain yang pernah ditolak. Penolakan bukan ukuran bahwa seseorang tidak mampu menjadi peneliti yang baik, melainkan momentum untuk mengevaluasi dan memperbaiki kualitas karya ilmiah.

Saya juga belajar bahwa keputusan major revision bukanlah jaminan bahwa artikel akan diterima. Kesempatan revisi merupakan ruang untuk membuktikan bahwa penulis mampu meningkatkan kualitas naskah sesuai dengan standar jurnal. Kedalaman analisis, ketepatan menjawab kritik, penguatan argumentasi, dan kontribusi teoretis jauh lebih penting. Kita perlu memberikan ruang yang cukup untuk berpikir, membaca kembali literatur, dan mengembangkan substansi penelitian.

Saya tidak menyesali usaha yang telah dilakukan. Justru dari pengalaman ini saya mendapatkan pemahaman baru tentang proses editorial dan ekspektasi jurnal internasional terhadap sebuah karya ilmiah. Saya percaya bahwa setiap penelitian memiliki ruang untuk berkembang. Naskah yang ditolak oleh satu jurnal bukan berarti tidak memiliki peluang untuk diterbitkan di jurnal lain. Namun, tentu bukan sekadar memindahkan naskah tanpa evaluasi. Perbaikan substantif tetap diperlukan agar karya tersebut menjadi lebih baik dan sesuai dengan karakter jurnal tujuan.

Terkadang, perjalanan akademik memang menguji bukan hanya kemampuan intelektual, tetapi juga ketahanan mental. Kita harus mampu menerima kritik tanpa merasa direndahkan, menerima penolakan tanpa kehilangan kepercayaan diri, dan memperbaiki tulisan tanpa merasa bahwa seluruh pekerjaan sebelumnya sia-sia. Ada saatnya kita menjadi penulis yang menerima kritik, dan ada saatnya kita menjadi reviewer yang memberikan penilaian terhadap karya orang lain. Kedua posisi tersebut mengajarkan pentingnya objektivitas, ketelitian, keterbukaan, dan penghargaan terhadap proses intelektual.

Saya ingin menutup refleksi ini dengan satu keyakinan: rejection is not the end of an academic journey. Ditolak menjelang titik akhir memang menyakitkan, tetapi bukan berarti perjuangan harus berakhir di sana. Kita mungkin tidak bisa menentukan keputusan editor atau mengendalikan seluruh ekspektasi reviewer, tetapi kita selalu memiliki kendali atas kualitas karya, integritas akademik, dan semangat untuk terus belajar. Sebab, menjadi peneliti bukan hanya tentang mengejar publikasi Scopus, melainkan tentang ketekunan membangun pengetahuan, keberanian menerima kritik, dan konsistensi menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat.

Tetap menulis. Tetap meneliti. Tetap berjuang. Sebab, satu email rejection tidak pernah cukup untuk menghentikan perjalanan panjang seorang peneliti.

Penulis: Akh. Fawaid

Lecturer and Researcher at STIE Bakti Bangsa